Menentang Wilayatul Faqih, Menentang Aimmah as
Kode: 240009 Tanggal: 2011/05/05Sumber: www.abna.irprint

Ayatullah Misbah Yazdi:
Menentang Wilayatul Faqih, Menentang Aimmah as

"Jika kita telah mengetahui kebenaran, kita harus tetap setia terhadap kebenaran tersebut. Jika kita telah melakukan penelitian dan terbukti bahwa Wilayatul Faqih adalah kebenaran, maka kita harus tegar berdiri dengan setia membelanya. Dan harus kita tahu, menentang Wilayatul Faqih sama halnya menentang Aimmah as, dan menurut riwayat sama halnya dengan mensyirikkan Tuhan."

 

 Menentang Wilayatul Faqih, Menentang Aimmah as

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Misbah Yazdi dalam pertemuannya dengan jama'ah Pasdaran mengatakan manusia diciptakan Allah swt dilengkapi dengan keinginan dan kehendak untuk memilih jalan kebahagiaan, "Keistimewaan manusia sebagai khalifatullah di muka bumi, adalah dilengkapi oleh kemampuan untuk memilih jalan kesempurnaan atau sebaliknya memilih jalan yang membuat dia jatuh dari kemanusiaannya."

Pengajar Hauzah Ilmiyah Qom ini lebih lanjut berkata, "Adalah sebuah kemestian jika ingin mencapai puncak kesempurnaan sebagai manusia, seseorang harus mengenal jalan yang benar yang akan ia tempuh terlebih dahulu. Sebab yang bisa mencapai kebahagiaan sejati, dengan menyempurnanya ia sebagai manusia hanyalah bagi mereka yang mengenal jalan yang benar dan berjalan di atasnya. Karenanya, dalam proses penciptaannya, manusia dilengkapi oleh Allah swt sarana untuk dapat mengenal jalan yang benar itu. Selain fitrah dan akal, Allah swt juga dengan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya mengutus para Nabi dan Aimmah as yang kemudian ditugaskan oleh Allah swt untuk memberi petunjuk, peringatan dan penunjuk jalan yang benar kepada umat manusia, agar tidak menyimpang dalam perjalanannya. Agar dapat memilih dan menetapkan jalan yang benar diantara banyaknya jalan yang sesat dan menyimpang."

"Sebagian dari mereka yang mengaku pengikut para Aimmah Maksum as, banyak yang tidak setia, ada yang bahkan menjadi musuh dan memerangi mereka. Dan sebagiannya lagi, tidak memberikan ketaatan kepada imamnya. Namun bagaimanapun mereka, para maksumin adalah tetap hujjah Allah swt di muka bumi." Tegas beliau.

Selanjutnya, Ayatulllah Misbah Yazdi mengaitkan kewajiban para mukallifin di zaman tidak adanya kemungkinan untuk berhubungan langsung dengan Imam, "Jangankan di masa kegaiban, di masa dimana umat bisa berinteraksi langsung dengan imam maksum, banyak dari kalangan umat manusia yang tidak memanfaatkannya. Karenanya, Imam Maksum senantiasa menunjuk seseorang untuk menjadi wakilnya, yang kemudian perintah tersebut dalam budaya kita disebut sebagai Wilayatul Faqih." 

 "Sejarah juga menyebutkan, sejak awal permulaan Islam sampai sekarang, dengan ketiadaan akses langsung dengan Maksumin, terlebih lagi pada zaman kegaiban, para fukaha dan ulama sangat memberikan peran besar dalam memberikan petunjuk dan pengajaran kepada ummat. Tanpa peran dan kehadiran mereka, bisa dipastikan tidak ada yang tersisa dari Islam ini, kalaupun Islam tetap ada, ia akan menjadi sebuah agama yang menyimpang jauh dari awal ketetapannya."

"Allah swt telah memberikan kemampuan yang besar kepada manusia, hatta meskipun Al-Qur'an yang diturunkan Allah swt sebagai kitab petunjuk, oleh kemampuan olah pikir manusia, Al-Qur'an justru mampu dimanfaatkan untuk menyesatkan manusia dan jauh dari Tuhan. Sebagaimana dilakukan oleh mereka yang murtad dari agama ini, mereka menggunakan Al-Qur'an untuk menyesatkan manusia. Karenanya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, berupaya keras mengenal dengan baik agama ini, mempelajarinya dari ulama-ulama yang Rabbani, sehingga mampu membedakan mana yang jalan benar dan mana yang jalan yang sesat, sehingga mampu memilih dan menetapkan jalan mana yang  mesti ditempuh."

Untuk lebih memudahkan memahami maksudnya, Ayatullah Misbah Yazdi mengangkat kisah Bani Israil yang disesatkan oleh Samiri, "Apa yang terjadi pada Bani Israil yang diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an adalah pelajaran bagi umat Islam. Sebagaimana Samiri yang dikenal oleh Bani Israil sebagai orang yang berilmu dan abid, namun justru menyesatkan ummatnya dan mengalihkannya dari ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Ini disebabkan karena ketidak taatan Bani Israil terhadap perintah Nabi Musa as yang telah menetapkan Nabi Harun as sebagai wakil dan penggantinya selama kepergian Nabi Musa as. Alhamdulillah umat Syiah mengambil dengan baik pelajaran pada kisah Samiri tersebut, khususnya pada masa awal-awal meninggalnya Rasulullah saww, jika banyak dikalangan umat Islam saat itu yang melupakan pesan Nabi yang telah disampaikannya 70 hari sebelum wafatnya di Ghadir Khum, umat Syiah tetap setia terhadap pesan tersebut dengan menjadikan Ali bin Abi Thalib as sebagai imam yang harus ditaati."

"Sejarah juga menyebutkan banyak kaum muslimin yang ahli shalat, ahli puasa, membaca al-Qur'an dan infaq namun itu tidak membuat mereka taat kepada Imam, bahkan dengan dingin mereka membunuh cucu Nabi dan membantai keluarganya tanpa perasaan bersalah. Kita harus mengambil pelajaran dari semua peristiwa tersebut. Sebab ini bisa saja terjadi pada diri kita, telah merasa saleh dengan semua amal-amal ibadah namun pada hakekatnya menyimpang jauh dari pesan Islam sesungguhnya untuk taat kepada Imam Zaman afs."

Lebih lanjut Ayatullah Misbah Yazdi memesankan, "Sebagai langkah awal untuk mencapai hidayah adalah penggunaan akal sehat. Setelah itu merujuk kepada Al-Qur'an dan perkataan para Maksumin as melalui perantaraan mereka yang ahli ilmu dan khusus menghabiskan waktunya untuk menekuni masalah-masalah syar'i seperti para ulama dan fukaha. Kita tidak dapat mempelajari dan memahami agama dengan baik melalui perantaraan mereka yang juga tidak mengenal agama ini dengan baik. Kita harus mempelajarinya dari mereka yang memang telah menghabiskan waktunya dengan serius menekuni ilmu-ilmu agama, yang telah mengikhlaskan dirinya di jalan agama ini, bukan dari mereka yang telah murtad dari agama atau dari mereka yang memang sejak awal punya niat buruk terhadap agama ini."

 "Ulama dan fukaha adalah pewaris Nabi, pewaris Al-Qur'an dan para Maksumin as. Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu perbuatan atas perintah selain Allah swt niscaya akan terjebak pada kesesatan dan kesyirikan."

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Misbah Yazdi berkata, "Jika kita telah mengetahui kebenaran, kita harus tetap setia terhadap kebenaran tersebut. Jika kita telah melakukan penelitian dan terbukti bahwa Wilayatul Faqih adalah kebenaran, maka kita harus tegar berdiri dengan setia membelanya. Dan harus kita tahu, menentang Wilayatul Faqih sama halnya menentang Aimmah as, dan menurut riwayat sama halnya dengan mensyirikkan Tuhan."

 




Email:
Nama:
Pesan:
Enter security code
erfan
ABNA World Service
Englishالعربية
Françaisاردو
Españolفارسی
Русский中文
DeutschTürkçe
Azeri (cyr) Azeri (ltin)
Melayu Indonesia
বাংলা हिन्दी
Swahili Myanmar
BosanskiABP sites
  Berita Terakhir