Membongkar Konspirasi dan Skandal Arab Saudi di Mesir
Kode: 312887 Tanggal: 2012/05/04 - 10:08Sumber: IRIB Indonesiaprint

IRIB Indonesia:
Membongkar Konspirasi dan Skandal Arab Saudi di Mesir

Iran kini menjadi poros resistensi di kawasan dan Arab Saudi berusaha membesar-besarkan peran juru perdamaiannya. Sementara dalam masalah Kebangkitan Islam, Arab Saudi sepenuhnya negatif. 

 Membongkar Konspirasi dan Skandal Arab Saudi di Mesir
Menurut Kantor Berita ABNA, Bersamaan dengan eskalasi tensi anti Arab Saudi di Mesir dan tuntutan rakyat negara ini untuk mengusir dubes Riyadh dari negara ini, penasehat hukum Arab Saudi dalam sebuah klaim barunya menuding Iran berusaha meneror dubes negara ini di Mesir. Sebuah sandiwara yang menggelikan, karena sehari kemudian klaim ini dibantah dan terkuaknya skandal baru al-Saud.

Seorang petinggi Mesir yang tidak bersedia disebutkan identitasnya saat dihubungi al-Sharq al-Awsat Mesir, menilai tak berdasar klaim Arab Saudi terkait penangkapan sebuah kelompok tiga warga Iran di Kairo yang dituding Riyadh berusaha meneror dubesnya di Mesir.
Sementara itu, sumber resmi pemerintah Mesir membantah klaim sejumlah media massa terkait penangkapan sindikat Iran yang berniat meneror Duta Besar Arab Saudi untuk Kairo.Televisi al-Alam Rabu (2/5) melaporkan, al-Sharq al-Awsat dan televisi Mesir membantah berita yang dimuat oleh koran al-Hayat terbitan London dan sejumlah media lain yang mengklaim adanya rencana teror terhadap Ahmad Abdul Aziz al-Qattan.

Al-Sharq al-Awsat Mesir menegaskan bahwa berita tersebut tidak berdasar dan sejak bertugas di negara ini hingga penarikannya dari Kairo pada Sabtu (28/4), tidak pernah ada ancaman teror terhadap Dubes Saudi.

Sebelumnya, koran al-Hayat terbitan London mengutip Muhammad Sami Jamaluddin, Penasihat Hukum Kedutaan Besar Saudi di Kairo mengklaim bahwa Badan Keamanan Mesir menangkap tiga warga Iran yang berniat meneror al-Qattan.

Masih menurut al-Hayat, Sami Jamaluddin menegaskan, konspirasi ini dimulai sejak tiga bulan lalu, bahkan Dewan Militer Mesir telah mengusulkan penjagaan ekstra di Kedubes Arab Saudi, namun hal ini ditolak dubes.

Jamaluddin mengklaim, kekhawatiran terkait kemungkinan tangan-tangan asing yang akan memanfaatkan demonstran mesir di depan Kedubes Arab Saudi semakin besar.

Berita tersebut dipublikasikan pasca Dubes Saudi dan para diplomat negara itu meninggalkan Kairo sebagai reaksi atas protes damai warga Mesir.Rakyat Mesir beberapa hari lalu menggelar demonstrasi damai di depan Kedubes Saudi di Kairo guna memprotes penangkapan warga Mesir di Arab Saudi oleh badan keamanan Riyadh.

Berita Skandal Arab Saudi Masih Terus Bergulir

Tak lama setelah tersebarnya kebohongan media Arab Saudi dan kemudian dibantah oleh Mesir, dua media lain yang seiring dengan skenario busuk Arab Saudi mengulurkan bantuannya ketika menyaksikan pangkalan mereka di Mesir terancam. Dua media ini satunya milik Arab Saudi dan yang kedua milik Rezim Zionis Israel.

Televisi al-Arabiya di situsnya pada hari Selasa mengutip pemberitaan al-Hayat dan kembali mengulang klaim palsu ini bahwa sindikat Iran berusaha menculik dubes Arab Saudi dan sindikat ini mencampurkan dirinya di tengah-tengah demonstran Mesir yang berdemo di depan Kedubes Saudi di Kairo.

Koran Haaretz juga tak membiarkan petinggi Arab Saudi sendirian dalam kasus ini dan pada hari Selasa koran ini menulis berita palsu. Haaretz menulis, dalih ditutupnya Kedubes Arab Saudi di Kairo bukan disebabkan friksi antara Riyadh dan Kairo terkait penangkapan Ahmad Al-Jizawi, namun dikarenakan adanya informasi rencana Iran untuk meneror dubes Arab Saudi. Koran ini mengulang klaim al-Arabiya soal adanya sindikat Iran di tengah-tengah demonstran Mesir di depan Kedubes Arab Saudi di Kairo.

Wajar jika pengulangan skenario menggelikan Saudi ini meski kegagalan rencana mereka sebelumnya sebetulnya hanya ditujukan untuk mengobarkan perpecahan di Kairo. Apalagi mereka tak malu-malu melibatkan Iran dalam skenario busuk mereka dan menjadikannya kambing hitam.

Royvaran: Arab Saudi Berusaha Tutupi Friksinya dengan Mesir

Dr. Hossein Royvaran, pengamat masalah Timur Tengah saat diwawancarai IRNA terkait masalah ini mengatakan, berita ini bersamaan dengan memanasnya gelombang anti Arab Saudi di Mesir, khususnya berbagai aksi demo dalam beberapa hari lalu yang menuntut pengusiran dubes Arab Saudi dari Kairo.

Aksi demo warga Mesir beberapa hari lalu, serangan terhadap Kedubes Arab Saudi serta penurunan bendara negara ini, menurut Royvaran didasari oleh kebijakan politik.

"Beberapa waktu lalu, salah satu aktivis Mesir yang melakukan ibadah umrah ditangkap pasukan keamanan Arab Saudi dengan dakwaan menghina Raja Arab Saudi. Aktivis tersebut dijatuhi hukuman cambuk dan penggal kepala," tandas Royvaran.

Seraya menekankan bahwa penangkapan aktivis tersebut memiliki dimensi politik, Royvaran mengingatkan, pasca aksi protes Mesir terhadap vonis ini, Arab Saudi langsung mengalihkan isu ini dan menyatakan penangkapan aktivis Mesir disebabkan ia membawa narkotika.
Menurutnya, kini Arab Saudi berusaha menjustikasi tindakannya serta menutupi friksi yang timbul antara Riyadh dan warga Mesir menjadikan Iran sebagai tumbalnya dengan mempropagandakan isu rencana Tehran meneror dubesnya di Mesir.

Royvaran juga mengisyaratkan berita serupa pada Oktober lalu terkait penangkapan dua warga Iran di Amerika Serikat yang didakwa berusaha meneror dubes Arab Saudi di Washington. Ia mengatakan,"Tujuan utama Arab Saudi adalah merusak citra Iran dan Riyadh dengan berbagai cara berusaha menjadikan Tehran sebagai sasaran berbagai tudingan."

Pengamat Timur Tengah iin menandaskan, kini Arab Saudi berusaha menjadikan isu Bahrain, Yaman dan Suriah sebagai kebijakan politiknya dan sikap Riyadh terhadap Tehran didasari oleh transformasi di kawasan.

Iran kini menjadi poros resistensi di kawasan dan Arab Saudi berusaha membesar-besarkan peran juru perdamaiannya. Sementara dalam masalah Kebangkitan Islam, Arab Saudi sepenuhnya negatif. Hal ini dapat kita saksikan sikap Riyadh terkait Yaman dan Bahrain. Di sini peran Arab Saudi bukan lagi juru damai, namun menjadi bagian dari rezim despotik menumpas aksi damai rakyat. Oleh karena itu, wajar kita saksikan pandangan negatif rakyat Mesir terhadap Arab Saudi mengingat raport merah Riyadh. Pastinya sikap negatif rakyat Mesir ini akan menjadikan Arab Saudi dibenci oleh publik.
 




Email:
Nama:
Pesan:
Enter security code
erfan
ABNA World Service
Englishالعربية
Françaisاردو
Españolفارسی
Русский中文
DeutschTürkçe
Azeri (cyr) Azeri (ltin)
Melayu Indonesia
বাংলা हिन्दी
Swahili Myanmar
BosanskiABP sites
  Berita Terakhir