Menurut Kantor Berita ABNA, dinukil sepenuhnya dari IRIB Indonesia, Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah menegaskan bahwa tujuan Perang 33 Hari adalah menghancurkan muqawama, bukan melucuti senjatanya, seraya menyatakan bahwa dalam perang tersebut rezim Zionis Israel gagal merealisasikan satu pun tujuannya.
Fars News (11/5) melaporkan, hal itu dikemukakan Sayid Hasan Nasrullah dalam sebuah acara menandai berakhirnya proyek rekonstruksi wilayah Dhahiyah. Kepada para hadirin, Sayid Nasrullah mengatakan, "Saya mengucapkan selamat datang dan berbahagia kepada Anda dalam acara ini. Sebuah acara yang jelas bagi semua orang dan peringatan ini akan menjadi topik pembahasan saya."
"Saya ingin berbicara mengenai rekonstruksi Dhahiyah sehingga hak pihak-pihak yang merupakan mitra sejati [dalam reskontruksi ini] terjaga," tuturnya.
Sekjen Hizbullah dalam pidatonya yang ditayangkan secara langsung oleh televisi al-Manar, menyinggung serangan massif rezim Zionis Israel selama 33 hari ke Lebanon pada tahun 2996 dan mengatakan, "Semua orang tahu bahwa Perang 33 Hari adalah menghancurkan muqawama, bukan melucuti senjatanya atau mengusirnya dari wilayah selatan Sungai Lithani, dan mengembalikan dua tahanan Israel. Akan tetapi tujuan sesungguhnya adalah menghancurkan muqawama dan memaksa Lebanon bersedia melakukan perubahan besar yang akan menjadi mukaddimah perubahan regional khususnya di Palestina, Suriah, dan kemudian Iran, dalam rangka membentuk Timur Tengah Baru yang hasilnya adalah bergabungnya Lebanon dalam program AS-Israel dan menjadi poros kompromi serta penyerahan dunia Arab."
Menyinggung kekalahan Amerika Serikat dan Israel dalam perang ini, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, "Perang terhadap Lebanon gagal merealisasikan satu tujuannya dan selama bertahun-tahun pasca perang saya telah berulang kali menjelaskan tujuan, proses, dampak, dan hasil dari perang tersebut dari berbagai sisi. Dan saya akan berbicara dari sisi sosial dan psikologisnya serta tentang proses rekonstruksinya.
Sayid Hasan Nasrullah mengemukakan pertanyaan penting dan mengatakan, "Mengapa Israel melakukan perusakan seluas ini? Mengapa mereka tidak puas hanya dengan merebut titik-tikik militer saja? Apakah ada tuntutan militer dalam hal ini? Apa yang dilakukan musuh Zionis dalam hal ini adalah kejahatan perang yang telah menimbulkan kerusakan sebesar ini. Karena Israel berpendapat bahwa lingkungan pihak yang menjadi tuan rumah [muqawama] harus menebus jalan yang dipilihnya dan muqawama adalah pihak yang menciptakan lingkungan tersebut."
Di bagian lain pernyataannya, Sayid Hasan Nasrullah menegaskan, "Israel sengaja ingin membuat hidup warga [Lebanon] seperti neraka."
"Akan tetapi seperti pada tanggal 22 September 2006 kami memperingati hari kemenangan besar, hari ini kami juga memperingati hari kemenangan rekonstruksi wilayah-wilayah yang rusak akibat perang. Ini adalah peringatan muqawama dan perjuangan, karena hidup di bawah eksistensi para penjajah bukan kehidupan, melainkan kematian."
Mengenai proses rekonstruksi, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, "Sebelum perang berakhir, saya mengontak rekan-rekan di Iran dan saya mengatakan kepada mereka bahwa kami ingin merekonstruksi wilayah-wilayah yang rusak akibat perang, karena musuh akan berbicara mengenai interaksi muqawama dengan kondisi kemanusiaan dan sosial pasca perang. Imam Khamenai pun mereaksi permintaan tersebut dengan kedermawanannya, dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad juga menunjukkan reaksi yang sama. Proses rekonstruksi berlangsung sejak hari pertama perang berakhir."
"Pada bulan-bulan pertama setelah perang, sebagian besar kawasan telah selesai direkonstruksi dan ini dapat terwujud berkat bantuan Republik Islam Iran, rumah-rumah dan kawasan pendudukan telah direkonstruksi," tegas Sekjen Hizbullah.