Wajib Bagi Setiap Muslim Mengenal Imam Zamannya
Kode: 314887 Tanggal: 2012/05/13 - 17:34Sumber: www.abna.irprint

Ayatullah Jawadi Amuli:
Wajib Bagi Setiap Muslim Mengenal Imam Zamannya

Jika ada yang tidak mengenal Imam Zamannya sendiri intisari yang akan ia reguk akan berupa intisari yang sangat pahit, pastinya intisari tersebut tidak akan menyerupai sirup pahit di dunia yang mana setelah direguk akan hilang pahitnya. Akan tetapi hal ini akan memiliki makna barang siapa usianya hanya dihabiskan untuk hal-hal yang buruk maka selamanya ia akan terperangkap dalam belenggu tersebut."
 

 Wajib Bagi Setiap Muslim Mengenal Imam Zamannya

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Jawadi Amuli di upacara pembukaan workshop upgrading iman Mahdisme dengan tema Mengenal pengaruh Mahdisme dan menanti kedatangan Imam Mahdi (Afs) (khusus mahasiswa provinsi Qom). Beliau membawakan Hadits:

 من مات و لم یعرف امام زمانه مات میتة جاهلیةseraya menegaskan dampak negatif tidak mengenal Imam Zamannya (Afs): Rasulullah Saww dalam hadits ini mengisyaratkan bahwa tidak mengenal Imam Zaman (Afs) dan mati dengan Jahil adalah di saat seseorang hidup dalam keadaan Jahil.

Beliau pada workshop yang digelar di “ Lembaga Internasional Ilmu-ilmu kewahyuan Isra’ ” menambahkan, "Kematian adalah intisari dari kehidupan, ketika seseorang mati berarti ia sedang mencicipi intisari kehidupannya. Pohon yang berbuah memiliki makna bahwa apapun yang ia kandung dalam dirinya semisal air dan intisari tanah telah diwujudkan dalam bentuk buah."

Ayatullah Jawadi Amuli dalam kelanjutan kata-katanya menekankan, "Telah difirmankan

 کل نفس ذائقة الموت dan bukannya کل نفس یذوق عن الموت menunjukkan makna kematian tidak mematikan kita melainkan kita mencicipi kematian, akan tetapi kitalah yang mematikan kematian."

Guru besar Hawzah Ilmu Qom ini menambahkan, "Jika ada yang tidak mengenal Imam Zamannya sendiri intisari yang akan ia reguk akan berupa intisari yang sangat pahit, pastinya intisari tersebut tidak akan menyerupai sirup pahit di dunia yang mana setelah direguk akan hilang pahitnya. Akan tetapi hal ini akan memiliki makna barang siapa usianya hanya dihabiskan untuk hal-hal yang buruk maka selamanya ia akan terperangkap dalam belenggu tersebut."

Ayatullah Jawadi Amuli membuat para audiens fokus dalam wacana dampak positif dari mengenal keberadaan mulia kehadirat Baqiyatullah (Afs) dengan merujuk pada Qs. Al-Anfal:24  beliau berkata, "Barangsiapa yang mengenal Imam Zamannya sudah pasti ia pun telah mengenal Allah Swt dan Nabi-Nya."

Beliau melanjutkan lagi, "Imam Shadiq as dalam jawabannya atas pertanyaan Zurarah, apa yang harus kita lakukan? Dibacakanlah doa ini:

اَللّهُمَّ عَرِّفْني نَفْسَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني نَفْسَک لَمْ اَعْرِفْ رَسُولَک، اَللّهُمَّ عَرِّفْني رَسُولَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني رَسُولَکَ لَمْ اَعْرِفْ حُجَّتَک، اَللّهُمَّ عَرِّفْني حُجَّتَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني حُجَّتَکَ ضَلَلْتُ عَنْ ديني

Artinya: Ya Allah Swt,  perkenalkanlah diri-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan diri-Mu, maka aku tidak dapat mengenal Rasul-Mu. Ya Allah Swt,  perkenalkanlah Rasul-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan Rasul-Mu, maka aku tidak dapat mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah Swt,  perkenalkanlah Hujjah-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan Hujjah-Mu maka aku telah tersesat dari agamaku.

Guru besar Tafsir Qur’an ini menekankan perihal mengenal Imam Zaman (Afs) dan seraya berkata, "Rasul adalah Khalifah Allah Swt dan Imam Zaman (Afs) adalah Khalifah Rasul. Jika kita tidak mengenal sejatinya sesuatu maka utusannya pun tidak akan kita kenali. Inilah argument Lammi dalam Logika."

 

Ulama marja’ ini pun kembali menegaskan, "Barang siapa tidak mengetahui konsep ini maka tidak dapat membedakan antara Saqifah dan Ghadir. Imam bukanlah utusan dari masyarakat melainkan utusan Rasulullah Saww. Barang siapa tidak mengenali Rasulnya maka ia tidak mengenali Imamnya."

 

Ayatullah Jawadi Amuli melanjutkan lagi, "Rasulullah Saww adalah  Khalifatullah, barang siapa tidak mengenali Rasulullah Saww maka tidaklah mengenal Alam semestanya, Tuhannya dan ketauhidan. Itulah doa yang diajarkan Imam Shadiq as, pada hakikatnya merupakan ajaran ketauhidan dan keimamahan."

Beliau memaparkan, "Konsep tidak mengenali Imam Zaman secara kaidahnya tidak mengenal sang Rasul dan menjurus dalam Saqifah."

Ayatullah Jawadi Amuli dalam konteks lainnya dikemukakan  bahwa beberapa dari gelar Imam Zaman (Afs) telah kita ketahui dari para muridnya dan kita kenali.

Beliau menambahkan, "Pada jilid 1 dari Kitab Ushul Kafi Syeikh Kulaini ra menjelaskan bahwa jalan terbaik dari mengenal ketuhanan adalah dengan mengenal Tuhan itu sendiri. Jika seseorang mengenal ketuhanan maka berarti ia telah mengenal dengan baik Tuhan tersebut. Jika seseorang telah mengenal kenabian maka ia telah mengenal sang nabi dan begitu pula seseorang yang telah mengenal keimamahan maka ia telah mengenal sang imam."

Ayatullah Jawadi Amuli menganggap sosok imam sebagai pribadi pokok dan keimamahan sebagai pribadi essensi. Beliau mengingatkan, "Barang siapa yang mengenal imam berarti ia mengetahui bahwa satu-satunya sosok yang memiliki hak keimamahan adalah sang Waliyul ‘Ashr (Afs)."

Mufasir Al-Qur’anul Karim ini melanjutkan, perbedaan yang mendasar antara alumni hawzah dan Universitas dengan orang-orang biasa,"Para mahasiswa dan akademis hawzah berada di atas kema’rifatan dan khalayak umum berada di bawah kema’rifatan. Tentunya segala sesuatu akan jelas di akherat kelak. Namun siapakah yang akan menang di hari kiamat dapat dipahami dari perkataan Imam Ali as, bisa saja 2 rakaat shalat seorang buruh sangat bernilai di sisi Allah Swt daripada shalat seorang ulama."

Beliau menegaskan, "Kita telah diperintahkan untuk meneladani imam yaitu apapun yang imam lakukan harus kita terima. Ini adalah dasar ma’rifat, akan tetapi kita jangan hanya mencukupkan pada dasar ma’rifat saja."

Ayatullah Jawadi Amuli menjelaskan perihal tingkatan ma’rifat terhadap imam as: terkait kenalilah Imam dan mendekatkan diri pada imam perbuatan ini termasuk dalam tingkatan ma’rifat kepada imam as.

Marja’ kaum Syiah ini sembari mengisyaratkan pada ayat وجعلنا للمتقین اماما berkata:, "Akademis Hawzah dan mahasiswa selayaknya pertama-tama berpengaruh dalam kehidupan sosial. Kemudian,  mereka yang sholeh, beragama dan cakap dari khalayak tersebut akan mengambil teladan darinya."  

Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan dan menggarisbawahi pembahasan hidayah kehidupan sosial, "Jangan katakan, ya Allah Swt janganlah memasukan aku ke dalam neraka, doa ini tidak benar. Tetapi katakan, ya Allah Swt kumpulkanlah aku bersama para Auliya dan para Nabi as."

Beliau memperingatkan terkait khalayak sosial harus mengambil teladan dari kita dengan mengisyaratkan gelar Imam Zaman (Afs): Gelar tersohor Imam Zaman adalah ‘Baqiyatullah’. Kitapun dapat meniti sang imam dan menjadi Baqiyatullah sesuai kadar kita sendiri. Para ulama, yaitu mereka yang senantiasa hidup dapat mencapai tingkatan Baqiyatullah sesuai kadar kemampuan dalam dirinya.

 

Ayatullah Jawadi Amuli dalam ceramahnya sembari mengisyaratkan masa muda sebagai masa pembentukkan karakter, beliau  memfokuskan kepada para generasi muda seraya berkata: Hati-hatilah untuk tidak melangkah tanpa landasan dan tidak menyeret seseorang dalam ketidak berlandasan. Hati-hatilah untuk tidak bermain-main dan tidak mengajak seseorang untuk bermain-main.

Beliau melanjutkan: Jika saudara dan saudari melakukan hal sedemikian rupa maka jadilah seorang ‘Ulul Baqiyah’ dan dapat terselamatkan dari kematian Jahiliyyah.  Sistem ini akan terus ada hingga masa kebangkitan sang Hujjah (Afs).

Workshop upgrading iman Mahdisme dengan tema Mengenal pengaruh Mahdisme dan menanti kedatangan Imam Mahdi (Afs) khusus mahasiswa provinsi Qom ini bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin Qom, direktorat kemahasiswaan agama, lembaga tabligh Islam dan Duta asosiasi masyarakat diselenggarakan sejak 20 Urdibehesyt (kalender Iran) selama 3 hari. Tujuan dari terselenggaranya workshop ini adalah pengenalan secara ilmiah bagi para

mahasiswa unggulan seprovinsi melalui pembahasan Mahdisme struktural dan irfan-irfan kontemporer serta pembekalan para mahasiswa luar kota Qom supaya dapat dengan lugas menjawab isu-isu penyimpangan perihal Mahdisme pada komunitas mereka masing-masing(*)

 

 

 

 

 

 



Komentar Pembaca

- Syiah Ali adalah sebaik-baik ummat, maka merugilah orang yang tidak tau sejarah Islam yang hanya tergiur oleh tipu daya para penghianat Islam maka lantas memusuhinya. [Muhammad Said Jafar]


- Wahai kalian yang memusuhi Syiah Ali, ketahuilah bahwa sesungguhnya kami mencintai Rasulullah dan Ahlul Baitnya. Bila karena mencintai Ahlul Bait Rasulullah maka kami dituduh Syiah,maka ketahuilah bahwa sesungguhnya saya adalah Syiah. [Muhammad Said Jafar]


- Wahai para Syiah Ali di seluruh penjuru dunia marilah kita memperkuat persatuan dan kesatuan dibawah panji dan tuntunan Imam Ahlul Bait dalam menghadapi makar jahat dari para musuh Islam [Muhammad Said Jafar]



Email:
Nama:
Pesan:
Enter security code
erfan
ABNA World Service
Englishالعربية
Françaisاردو
Españolفارسی
Русский中文
DeutschTürkçe
Azeri (cyr) Azeri (ltin)
Melayu Indonesia
বাংলা हिन्दी
Swahili Myanmar
BosanskiABP sites
  Berita Terakhir